Ads Top

Terapi Anak Autis, Sembuh Setelah Transplantasi Tinja

Dalam penelitian terkini tentang terapi anak autis, ilmuwan menemukan metode baru yang memanfaatkan transplantasi tinja untuk menyembuhkan penyakit autisme. Metode ini memperkenalkan mikroba yang disumbangkan dari orang-orang sehat untuk menyeimbangkan usus. Gejala perilaku autisme dan gangguan pencernaan sering terjadi, sehingga anak-anak dengan gangguan tersebut sebaiknya menjalani transplantasi tinja dan pengobatan selanjutnya.

Terapi Anak Autis

Ilmuwan menganalisa 18 anak autis dan mengalami masalah Gastrointestinal. Orang tua dan dokter mengatakan telah melihat perubahan positif, setidaknya delapan minggu setelah pengobatan. Ilmuwan juga mengundang anak-anak tanpa autisme untuk perbandingan bakteri dan virus pada komposisi usus sebelum penelitian. 

Terapi Anak Autis


Menurut Ann Gregory, transplantasi tinja bekerja pada individu yang bermasalah dengan pencernaan lainnya seperti gejala gastrointestinal. Setelah pengobatan, ilmuwan menemukan perubahan positif dalam gejala GI dan neurologis secara keseluruhan. Hasil penelitian ini kemudian diterbitkan dalam jurnal Microbiome, dikerjakan oleh ilmuwan dari Arizona State University dan Northern Arizona University.

Penelitian terapi anak autis menggambarkan hubungan antara bakteri dan virus yang menghuni usus dan masalah di otak, dan mungkin keduanya terkait bersama-sama pada penderita autisme. Penelitian sebelumnya telah menetapkan bahwa anak autis biasanya memiliki lebih sedikit jenis bakteri penting dan kurang beragam dalam ususnya. Sehingga banyak diantaranya memberikan resep dan antibiotik dalam tiga tahun pertama.

Para orang tua tidak hanya melaporkan penurunan masalah pencernaan usus (diare dan sakit perut) dalam delapan minggu setelah pengobatan terakhir. Mereka juga mengatakan telah melihat perubahan perilaku autisme menjadi lebih baik pada anak berkisar antara 7 hingga 16 tahun. Ilmuwan mengumpulkan informasi dari orang tua, melalui kuesioner standar untuk menilai keterampilan sosial, perasaan cepat marah, hiperaktif, komunikasi dan langkah-langkah lainnya. 

Salah satu alat menunjukkan perkembangan terapi anak autis rata-rata meningkat 1,4 tahun setelah perawatan. Skor rata-rata pada skala gejala gastrointestinal menunjukkan penurunan 82 persen dari awal sampai akhir pengobatan. Kemudian orang tua diminta untuk memberikan umpan balik pada 17 gejala yang berhubungan dengan autisme. Peningkatan ini terlihat secara keseluruhan yang berkelanjutan selama dua bulan setelah pengobatan akhir.

Para ilmuwan meminta dokter anak untuk menyelesaikan evaluasi diagnostik sebelum pengobatan eksperimental, pada akhir pengobatan dan delapan minggu setelahnya. Hasil tersebut juga menunjukkan manfaat terapi anak autis, adanya perubahan pada mereka. Gejala yang dilaporkan dokter (Childhood Autism Rating Scale) mengalami penurunan sebesar 22 persen pada akhir pengobatan. Dan perubahan berkelanjutan 24 persen selama delapan minggu setelah pengobatan berakhir.

Di akhir penelitian, keragaman bakteri usus pada anak-anak autisme tidak bisa dibedakan dari anak-anak yang sehat. Ilmuwan sangat tertarik pada interaksi antara virus dan bakteri yang digunakan untuk pengujian genetik, lebih mirip dengan microbiome donor. Transplantasi tinja dilakukan dengan mengolah kotoran donor dan skrining untuk virus penyebab penyakit dan bakteri sebelum memasukkannya ke saluran pencernaan orang lain. 

Ilmuwan menggunakan metode yang disebut terapi pengalihan mikrobiota, dimulai dari anak yang menjalani pengobatan selama dua minggu menggunakan antibiotik untuk menghilangkan berbagai flora pada usus. Kemudian, dokter memberi mereka dosis tinggi transplantasi tinja dalam bentuk cair. Dalam tujuh sampai delapan minggu berikutnya, anak-anak diberi minum smoothie yang dicampur dengan bubuk dosis rendah.

Menurut ilmuwan, para orang tua seharusnya berhati-hati dari efek plasebo dan sebaiknya mengambil langkah yang memberi harapan. Para ilmuwan mencoba untuk mengetahui secara terinci, pasien yang menjalani transplantasi tinja pada berbagai kondisi (seperti infeksi C.diff) bisa mengalami perubahan. Mereka memperingatkan bahwa sebaiknya jangan mencoba untuk meniru pengobatan eksperimental sendiri, karena terapi anak autis bisa membahayakan anak-anak jika dilakukan tidak benar.

Referensi

Tidak ada komentar: