Ads Top

Terapi Konservasi Payudara, Lebih Baik Dibanding Mastektomi

Terapi konservasi payudara atau disebut Breast Conserving Therapy (BCT), merupakan operasi konservasi payudara yang dikombinasikan dengan terapi radiasi. Menurut ilmuan, terapi ini lebih unggul pada Mastektomi jenis tertentu pasien kanker payudara. Mastektomi merupakan istilah operasi pengangkatan payudara, tidak hanya dilakukan pada penderita kanker payudara tetapi juga bisa dilakukan sebagai pencegahan untuk menurunkan risiko penyakit kanker.

Terapi Konservasi Payudara

Profesor Sabine Siesling bersama ilmuwan dari University of Twente, telah mempelajari hampir 130,000 pasien kanker payudara. Pasien ini dibagi menjadi dua kelompok, diantaranya pasien yang didiagnosis antara tahun 1999 hingga 2005 dan diagnosis antara tahun 2006 hingga 2012. Pasien ini dipilih dari Netherlands Cancer Registry dimana mereka tidak memiliki metastasis kanker. Pendataan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi tentang penyebab kematian.

Terapi Konservasi Payudara


Percobaan secara acak telah dimulai pada tahun 1980-an, penelitian diwaktu itu telah menunjukkan kelangsungan hidup yang sama untuk BCT dan Mastektomi. Percobaan ini sering melibatkan pasien usia lanjut atau pasien dengan penyakit selain kanker payudara (komorbiditas), dan kelompok berbasis populasi. 

Beberapa studi berbasis populasi membuktikan keunggulan kelangsungan hidup pada terapi konservasi payudara (BCT). Tetapi cenderung tidak dalam jangka panjang dan dievaluasi pada pasien yang terbatas. BCT memiliki perbedaan dalam pengobatan setelah operasi antara kedua kelompok, dan tidak memiliki data tentang penyebab kematian untuk mengevaluasi kelangsungan hidup penderita kanker tertentu. Sehingga bisa menyebabkan pengenalan faktor pembaur, sehingga menyebabkan penyakin bertambah parah atau kematian karena penyebab lain.

Dalam studi saat ini, faktor Prognostik seperti usia, tahapan/fase, komorbiditas, reseptor hormonal, dan status HER2 serta perbedaan dalam perawatan sistemik (obat setelah operasi). Semua ini dimasukkan dan dianggap sebagai penjelasan yang mungkin menjadi alasan yang menjelaskan perbedaan kelangsungan hidup antara metode BCT dan Mastektomi. Jejak ini memungkinkan identifikasi adanya kemungkinan faktor prognosis di masa depan, dan memprediksi pasien agar mendapatkan keuntungan dari Breast Conserving Therapy.

Menurut Prof Siesling, kedua metode yang berbeda sangat memungkinkan untuk membandingkan hasil jangka panjang dengan metode yang lebih baru. Ilmuwan mengevaluasi pasien yang telah mendapatkan keuntungan dari terapi konservasi payudara dan diagnosa yang lebih canggih. 
Pasien yang melakukan Breast Conserving Therapy pada tahap awal kanker T1-2N0-1M0 memiliki kesempatan hidup jauh lebih unggul, baik dari segi kanker payudara spesifik dan penyebab kematian.

Untuk mengidentifikasi pasien yang mungkin bisa mendapat manfaat besar dari BCT, kedua kelompok dibagi menjadi evaluasi subkelompok. Salah satunya evaluasi kanker T1-2N0-1M0 pada tahap ketika metastasis ke organ belum terjadi. Kedua kelompok menunjukkan keuntungan BCT pada pasien berusia lanjut, memiliki komorbiditas, dan jika mereka tidak melakukan kemoterapi.

Studi ini memiliki potensi untuk lebih meningkatkan pengobatan sekaligus pengambilan keputusan untuk pasien kanker payudara di masa mendatang. Terutama pada mereka yang berusia lebih dari 50 tahun dan mereka yang memiliki komorbiditas. Hasil penelitian ini tidak berarti bahwa Mastektomi merupakan pilihan yang salah. 

Masektomi bisa menjadi pilihan terbaik untuk pasien yang tidak cocok dengan radioterapi atau layak karena keadaan sosial, risiko efek samping radioterapi tinggi, atau hasil estetika yang buruk pada BCT. Studi menjelaskan bahwa Breast Conserving Therapy (BCT) setidaknya sama bagusnya dengan Mastektomi, tetapi beberapa pasien mungkin mendapatkan manfaat lebih di masa depan jika melakukan terapi konservasi payudara.

Referensi

  • Some early breast cancer patients benefit more from breast conservation than from mastectomy, 29 January 2017, by ECCO-the European Cancer Organisation, review in European Cancer Congress 2017.

Tidak ada komentar: