Ads Top


Infeksi Saluran Pernapasan Sebabkan Kematian Pasien Transplantasi

Siapa yang tak pernah merasakan gejala flu, penyakit yang satu ini merupakan sumber utama yang menyebabkan penyakit musiman lainnya. Tetapi penelitian baru-baru ini menemukan bahwa infeksi saluran pernapasan yang paling umum berakibat jauh lebih buruk daripada hidung tersumbat, terlebih pada pasien transplantasi sumsum tulang bisa menyebabkan kematian.

infeksi saluran pernapasan

Pasien transplantasi sumsum tulang sangat rentan, dimana pertahanan kekebalan tubuh berkurang dramatis. Penyakit flu diikuti transplantasi sumsum tulang membutuhkan sistem kekebalan tubuh dengan sel donor, sehingga sangat rentan terhadap berbagai infeksi yang seharusnya tidak menyebabkan masalah besar pada orang sehat.

Infeksi Saluran Pernapasan Sebabkan Kematian


Rhinovirus merupakan virus pernapasan yang paling umum dan dianggap remeh sebagian besar ahli medis. Menurut Dr Michael Boeckh, virus ini dianggap lazim, sekitar 25 persen pasien transplantasi sel induk terinfeksi Rhinovirus selama tahun pertama, dan selalu dianggap semacam flu biasa atau virus ringan.

Penelitian ini dikerjakan Dr Sachiko, seorang dokter di Cancer Research Center East Nasional di Chiba, Jepang. Tim ilmuwan ini menjelaskan bahwa Rhinovirus dapat menyebabkan pneumonia, dan ketika jika hal itu terjadi dapat menyebabkan kematian bagi pasien setelah melakukan transplantasi. Temua ini tidak hanya menganjurkan pentingnya langkah-langkah yang kuat dalam pencegahan infeksi virus pada pasien transplantasi. Perawatan yang lebih baik pada pasien pneumonia untuk melawan perkembangan virus, dan ilmuwan memprioritaskan pengembangan obat antivirus yang efektif untuk mencegah pilek.

Penemuan baru ini berkat metode pendeteksian virus dengan peralatan modern, rhinovirus sulit ditemukan dengan menggunakan teknologi yang lebih tua. Rhinovirus berada di paru-paru pada pasien transplantasi dengan pneumonia, dan virus itu menyebabkan komplikasi sepanjang waktu penyembuhan. Ilmuwan telah membandingkan 128 pasien yang menderita Rhinovirus di saluran pernapasan bagian bawah, mereka yang terinfeksi menyebabkan Pneumonia dan kadang-kadang kematian pada pasien transplantasi. Jenis virus itu diantaranya menyebabkan influenza (virus parainfluenza) atau PIV, dan respiratory syncytial virus atau RSV.

Sekitar 15 persen pasien dengan infeksi saluran pernapasan atas atau jenis infeksi biasanya kita anggap sebagai flu biasa. Infeksi ini akan berlanjut dan berkembang menjadi Pneumonia, atau infeksi saluran pernapasan bagian bawah. Gejala dingin seperti pada pasien pneumonia yang terinfeksi RSV sering terjadi sekitar dua kali. Setelah pasien mengalami pneumonia, Rhinovirus hanya mematikan virus lainnya. Dan sekitar 40 persen pasien meninggal, mereka mengidap pneumonia dari infeksi virus pernapasan.

Pada umumnya pneumonia disebabkan oleh virus pernafasan pada pasien transplantasi. Karena virus ini sangat umum dan karena muncul sepanjang tahun, tidak seperti virus yang lain muncul musiman.

Meskipun tidak ada obat yang efektif untuk mencegah rhinovirus, pemahaman tentang risiko tertinggi komplikasi dari virus ini dianggap sangat penting. Pasien yang menjalani tahun pertama setelah transplantasi harus selalu memeriksa dengan dokter setelah mengalami gejala dingin akibat infeksi saluran pernapasan. Setiap anggota keluarga dan teman-teman dengan gejala pilek atau flu harus membatasi kontak dengan pasien pasca-transplantasi sebanyak mungkin.

Referensi

  • Common cold can be surprisingly dangerous for transplant patients, 07 March 2017, by Fred Hutchinson Cancer Research Center.
  • Human rhinovirus detection in the lower respiratory tract of hematopoietic cell transplant recipients: association with mortality. Haematologica, 2017; haematol.2016.153767 DOI: 10.3324/haematol.2016.153767

Tidak ada komentar: